Agenda Komite

- 13 -
May
2017

Seminar Undang-Undang Kebudayaan

Oleh:Departemen

Tempat : Hotel Ibis Surabaya
Jam : 09.00 WIB


SURABAYA – Setelah disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan menjadi Undang-Undang Kebudayaan, Dewan Kesenian Jawa Timur (DK-Jatim), langsung tancap gas. Dengan mengadakan Konsolidasi Dewan Kesenian daerah se-Jatim dengan menggelar Seminar Undang-Undang Kebudayaan, yang diikuti para aktivis kebudayaan, seniman dan segenap pengurus dewan kesenian di Jawa Timur.

Seminar bertajuk "Menakar kekuataan UU Kebudayaan sebagai lansasan hukum menuju kemajuan adab, budaya dan persatuan untuk mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”. Dengan pembicara kunci Dr H Soekarwo SH M Hum, Gubernur Jatim. Seminar digelar pada Sabtu, 13 Mei 2017, mulai pk 09.00 WIB di Hotel Ibis Basuki Rahmat Surabaya City Center, menghadirkan pembicara Ir HM Ridwan Hisyam, Wakil Ketua Komisi X DPR RI dan Dr Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

“Kita patut menyambut UU Kebudayaan atau tepatnya Undang-Undang tentang Pemajuan Kebudayaan. Hal ini perlu mendapat respon positif dari kalangan aktivis kebudayaan, para seniman dan pihak-pihak yang peduli terhadap kemajuan kebudayaan kita,” kata Taufik ‘Monyong’ Hidayat, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur, Jumat (12/05/2017).

Menurutnya, dalam prosesnya, sebelum disahkan sebagai undang-undang, UU Pemajuan Kebudayaan melibatkan berbagai pihak, terutama budayawan dan pebisnis. Kendati masuk dalam program legislasi nasional 2016, RUU yang intinya akan mengatur, mengembangkan dan memelihara nilai-nilai budaya nasioal ini tak kunjung rampung.

Menurut Taufik Monyong, panggilan akrabnya, "Ada tiga materi utama dalam UU tersebut, yakni soal kelembagaan, pendanaan dan sanksi. Sekarang tinggal bagaimana mengimplementasikan perintah UU tersebut ke dalam aksi nyata yang tidak menunggu waktu lama. Ada pasal yang di antaranya menyebutkan, pengarusutamaan kebudayaan dalam pendidikan menjadi sangat penting untuk mendukung program pendidikan karakter yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru.”

Sebelumnya, secara intens Taufik Monyong telah melakukan serangkaian disku dengan Hilmar Farid, yang dikenalnya sebagai aktivis sosial budaya itu.